2014 Harga Properti Naik, Pasar Akan Tersendat

adsense-fallback

Harga Properti Naik, Pasar Akan Tersendat

Rumah Pantura – Memasuki 2014, pengembang dibayangi pasar properti yang kurang kondusif. Bukan hanya perumahan middle-up,middle-low juga akan terkena dampak pengetatan KPR. Meski demikian, kenaikan harga properti tidak bisa dihindari.

adsense-fallback

baca : Mudah Beli Rumah Dengan KPR

Marketing Manager PT Bersatu Sukses Group (BSG) Titin Santoso mengatakan, kenaikan harga rumah sederhana tak bisa dimungkiri. Sebab, harga bahan bangunan pasti naik. Itu merupakan dampak dari Jika kenaikan UMK dan biaya transportasi. Di sisi lain, harga tanah semakin melambung.

Karena  itu, dia memperkirakan, kondisi pasar properti tahun ini tidak akan sebagus pada 2013. Sebab, konsumen akan berpikir ulang untuk membeli rumah. Terutama untuk perumahan kelas middle-low. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan akan lebih mahal. Termasuk biaya untuk down payment (DP). “KPR masih ada, tapi biayanya akan lebih tinggi. Kami harus bekerja lebih keras lagi. Kondisinya memang berbeda dengan 2013,” katanya di kantornya kemarin.

Sebagai gambaran, kata Titin, rumah bersubsidi yang dibangun BSG, Taman Anggun Sejahtera 5 (TAS) yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, menjadi tahun lalu berharga Rp 88 juta. Sekarang harga tersebut tidak dipakai lagi. Sebab, harga itu tidak menguntungkan dari sisi bisnis. Karena itu, dipastikan harganya naik tahun ini. Titin mengakui, kenaikan harga akan berimbas pada tersendatnya pemasaran produk perumahan. Namun, hal itu harus dilakukan agar pengembang tidak rugi. “Sekarang saja harganya sudah di atas Rp 100 jutaan. Awal tahun ini harganya kami naikkan lagi 10-15 persen karena harga tanah sudah naik. TAS 5 tahap dua kami kembangkan seluas 20 hektare,” paparnya.

Sementara itu, Marketing Manager Citra Harmony Enny Setiowati menjelaskan bahwa tahun ini kondisi pasar properti tidak akan semulus tahun lalu. Sebab, aturan BI tentang pengetatan KPR membuat konsumen sedikit menahan pembelian. Padahal, selama ini penjualan perumahan terbesar justru terjadi lewat KPR.

“Karena itu, developer dituntut untuk semakin inovatif. Bukan hanya produknya, melainkan juga model pembayarannya,” katanya. Misalnya, dikeluarkan rumah tumbuh dengan ukuran lebih kecil Sederhana dan harga yang masih terjangkau. Pembayaran uang muka (DP) dibuat lebih lama.  “Kami harap, tahun ini kondisinya masih bisa tumbuh. Perbankan juga terus  memberikan support dengan menyediakan KPR meskipun DP lebih tinggi,” imbuhnya. (za/c1/jay/radar surabaya)

Pencarian Terkait:

adsense-fallback