Jangan Terjebak dengan Bunga Kecil Ketika Memilih KPR

adsense-fallback

Jangan Terjebak dengan Bunga Kecil Ketika Memilih KPR

Rumah Pantura – Iklan KPR yang begitu gencar akhir-akhir ini, selain menggembirakan, juga membuat konsumen bingung—bingung untuk menentukan bank mana yang akan dipilih. Sebelum menjatuhkan pilihan, ada baiknya Anda mengetahui beberapa hal terlebih dulu.

Gencarnya iklan dari sejumlah bank—yang umumnya menjajakan angka persen—justru memunculkan pergulatan panjang bagi konsumen yang ingin membeli rumah melalui bantuan pinjaman bank. Iklan KPR yang menerpa konsumen ini tampaknya belum disertai bekal pengetahuan konsumen yang memadai tentang seluk beluk KPR. Apakah artinya bunga 12%? Apa artinya sistem flat atau efektif? Kalau ada satu bank yang memberi bunga lebih kecil dari bank lain, mengapa masih ada orang yang mau memilih bank yang memberi bunga lebih besar? Kalau ada bank yang mengklaim bunga 10% dalam iklannya, mengapa masih ada orang yang memilih bank yang mengklaim 12%?

baca juga :

adsense-fallback

Sebuah Solusi untuk Membeli Rumah

Jangan Terjebak dengan Bunga Kecil Ketika Memilih KPR

Secara garis besar, KPR (Kredit Pemilikan Rumah) “ada” karena dua hal, yaitu ada pengembang yang membangun rumah, dan ada konsumen yang ingin membeli tapi tidak memiliki cukup dana. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa KPR adalah sebuah solusi bagi pembelian rumah.

Solusi ini tampaknya mendapat sambutan baik setidaknya di Indonesia. Perbandingan antara orang yang membeli rumah dengan bantuan bank dan yang tidak adalah 70:30. Yang 70 ini adalah orang-orang yang baru pertama kali memiliki rumah. Sebagaimana layaknya pinjaman, ada sejumlah aturan yang diberlakukan oleh bank, seperti penetapan uang muka, penerapan bunga, dan pembebanan biaya-biaya administrasi. Masing-masing bank bisa menerapkan aturan yang berbeda.

Hati-hati dengan Angka Persen yang Dipublikasikan

Teorinya, memang ada beberapa macam penghitungan bunga KPR. Setiap bank bebas untuk menjalankan metode yang manapun (umumnya satu bank menerapkan satu sistem saja). Masing-masing sistem memiliki istilahnya masing-masing. Nah, istilah inilah yang sering membingungkan konsumen. Di sini kami tidak akan berpusing-pusing menjelaskan rumus masing-masing penghitungan, karena toh semua hitungan itu sudah dilakukan oleh komputer. Secara umum ada dua macam sistem yang paling banyak digunakan bank dan paling banyak dikenal masyarakat, yaitu flat dan efektif (sering juga disebut efektif menurun). Dari kedua jenis ini, lebih banyak bank yang menerapkan sistem efektif (flat lebih banyak digunakan untuk kredit mobil atau KPM). Tapi sekalipun jarang, ada juga bank yang menggunakan sistem flat. Perbedaan yang paling mencolok dari kedua sistem ini adalah bunga yang diklaim oleh bank yang bersangkutan.

Bank yang menggunakan sistem flat, pasti mengklaim bunga yang lebih kecil ketimbang bank yang menggunakan sistem efektif. Perbedaannya sangat jauh, bahkan bisa mendekati setengahnya. Jadi kalau bank A menawarkan bunga 12%, lalu bank B menawarkan bunga 8%, Anda jangan langsung pilih bank B. Kemungkinan besar bank B menerapkan sistem flat. Untuk mengetahui bank mana yang memberikan bunga lebih kecil, Anda harus mengkonversikan dulu ke sistem yang sama, setelah itu, baru Anda bisa membandingkan. Bukannya tidak mungkin, setelah dikonversi ke dalam sistem yang sama, ternyata bank B memberikan bunga lebih besar dari bank A.

Kalau perbedaan bunga antara bank A dan bank B tidak seberapa jauh, misalnya bank A menawarkan 10% sementara bank B menawarkan 10,5% atau 11%, kemungkinan besar kedua bank itu menggunakan sistem yang sama, hanya saja ada persaingan bunga antara keduanya.

Flat Versus Efektif

Kalau Anda membeli rumah melalui KPR bank, Anda akan memiliki kewajiban untuk membayar cicilan per bulannya. Cicilan terdiri dari dua elemen, yaitu pokok dan bunga. Yang dimaksud pokok adalah hutang itu sendiri. Baik menggunakan sistem flat maupun efektif, besarnya cicilan yang Anda bayarkan setiap bulan, besarnya tetap. Jadi seandainya setelah dihitung Anda harus membayar cicilan Rp 1 juta per bulan, dari awal sampai akhir Anda akan tetap membayar sebesar Rp 1 juta per bulan.

Nah, perbedaan antara flat dan efektif adalah pada komposisi antara bunga dan pokok dalam pembayaran tiap bulannya. Pada sistem flat, komposisi antara bunga dan pokok tetap dari awal sampai akhir. Sedangkan pada sistem efektif, komposisi bunga dan pokok berubah. Di awal, Anda akan membayar bunga lebih besar ketimbang pokoknya. Tapi semakin lama bunga akan semakin mengecil, dan pokok semakin membesar. Inilah kenapa sistem efektif sering juga disebut efektif menurun. Maksudnya, bunganya semakin lama semakin mengecil. Tapi jumlah cicilan yang harus Anda bayarkan setiap bulannya, tetap alias tidak berubah.

Apakah Harus Memilih Bunga yang Paling Kecil?

Ketika Anda menentukan akan membeli sebuah lemari, misalnya, tentunya Anda akan membandingkan harga lemari tersebut antara satu toko dengan toko lainnya. Apakah Anda pasti memilih yang paling murah? Belum tentu. Mungkin Anda akan mempertimbangkan kualitasnya, jenis bahannya, apakah toko tersebut mau mengantarkan ke rumah, berapa biaya pengantaran, dan sebagainya.

Seandainya bunga KPR diibaratkan seperti harga, kira-kira seperti inilah cara Anda memilih bank pemberi kredit. Anda perlu mempertimbangkan bunga, tapi bunga bukan satu-satunya faktor yang perlu Anda pertimbangkan. Beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan adalah sebagai berikut.

1.       Biaya proses

Yang dimaksud dengan biaya proses adalah biaya-biaya yang harus Anda keluarkan untuk semua keperluan KPR— ada biaya provisi dan administrasi, asuransi, notaris untuk perjanjian kredit, dan biaya untuk penilaian jaminan (berlaku untuk rumah seken). Jumlah biaya-biaya ini bisa berbeda antara satu bank dengan bank lainnya. Untuk mengetahuinya, Anda bisa datang ke beberapa bank, dan menanyakan total biaya yang harus Anda keluarkan.

2.       Lamanya proses

Kemampuan bank dalam memproses permohonan kredit Anda sejak pengajuan pertama sampai disetujui, berbeda-beda. Proses sejak permohonan Anda disetujui sampai Anda melakukan akad kredit, juga berbeda-beda. Tentunya semakin cepat proses ini dilakukan, semakin baik.

3.       Jangka waktu maksimal

Setiap bank memiliki ketentuan yang berbeda untuk jangka waktu pinjaman, yang umumnya berkisar antara 15 – 20 tahun. Kalau jangka waktunya lama, tentunya cicilan Anda bisa lebih kecil. Menurut Juanita, sebaiknya ambillah jangka waktu maksimum yang diberikan bank. Kalau bank yang Anda pilih memberikan jangka maksimum 20 tahun, ambillah pilihan tersebut. Toh kalau suatu saat Anda mendapat rezeki, Anda bisa menjadwal ulang cicilan Anda.

4.       Fleksibilitas

Yang dimaksud dengan fleksibilitas di sini adalah apakah sebuah bank bisa mengikuti kebutuhan atau kondisi keuangan Anda. Seandainya Anda sudah mengkredit dengan jangka waktu 20 tahun, kemudian suatu waktu Anda mendapatkan promosi yang berakibat pada kenaikan gaji, Anda bisa menjadwal ulang hutang Anda menjadi 15 tahun. Tentunya cicilan menjadi lebih besar (tapi mungkin persentasenya terhadap gaji Anda tidak berubah), dan cicilan Anda jadi lebih cepat selesai.

5.       Penalti

Dalam KPR, mungkin Anda sering mendengar istilah penalti. Penalti adalah biaya yang dibebankan kepada Anda apabila di tengah jalan Anda memutuskan untuk melunasi cicilan.

6.        Keragaman

Saat ini, KPR tidak hanya bisa digunakan untuk membeli rumah. Untuk membangun, merenovasi, atau membeli rumah seken juga bisa. Anda bisa mengajukan permohonan kredit renovasi saat kredit pembelian rumah belum selesai.

7.       Servis

Selama pembayaran cicilan belum lunas, sertifikat rumah yang dibeli tetap dipegang oleh bank. Debitur berhak melihat sertifikat sebagai bukti bahwa sertifikat itu memang ada. Bahkan sebetulnya menurut Juanita, bank wajib memfotokopi dan mengirimkannya ke debitur. Sebagari debitur, jika bank tidak memberikan salinannya kepada Anda, sebaiknya Anda menanyakannya. Jangan sampai setelah cicilan lunas, sertifikat atau IMB tidak ada karena kelalaian bank

Cara Membandingkan

Jika Anda terlalu pusing untuk membandingkan besarnya bunga yang harus Anda bayar, dan sebagainya, Anda bisa menggunakan cara yang paling gampang. Datang saja ke beberapa calon bank yang akan Anda pilih, minta simulasi cicilan KPR. Umumnya bank-bank pemberi KPR memiliki simulasi penghitungan cicilan. Tentukan saja satu jumlah pinjaman tertentu (misalnya Rp 100 juta), dengan besar uang muka tertentu (misalnya 20%) dan jangka waktu tertentu (misalnya 15 tahun). Melalui simulasi, Anda bisa mengetahui jumlah cicilan yang harus dibayarkan setiap bulannya. Lalu kumpulkan informasi ini dari beberapa bank, kemudian bandingkan. Anda bisa melihat dengan jelas, mana yang cicilannya paling kecil.

Bila Anda ingin memaksimalkan “jatah” gaji Anda untuk membayar cicilan (yaitu 30% dari take home pay), Anda tinggal memasukkan angka tersebut ke dalam lembar simulasi. Dari situ Anda mengetahui jangka waktu cicilannya.

Nah, dengan mengetahui perbedaan masing-masing bank, Anda bisa menentukan bank mana yang kira-kira cocok untuk Anda. Apakah yang tidak memberikan penalti karena sepertinya 5 tahun lagi Anda bisa melunasi cicilan, atau yang jangka waktu maksimalnya paling lama karena supaya cicilannya kecil, atau yang memungkinkan penjadwalan ulang karena tahun depan Anda bakalan naik gaji? Anda bisa pilih-pilih. (tabloid rumah)

judul Artikel : Jangan Terjebak dengan Bunga Kecil Ketika Memilih KPR

adsense-fallback