Menengok Bisnis Rumah Knock Down

adsense-fallback

Menengok Bisnis Rumah Knock Down

Rumah Pantura – Bisnis properti berlari kencang akhir-akhir ini. Harga rumah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan meningkat 15 persen–20 persen dalam empat tahun terakhir.

Selain tanah yang semakin mahal, harga properti juga terangkat oleh harga material yang membubung. Bagi mereka yang ingin membangun sendiri, ada kerepotan ekstra seperti mengurus sendiri rencana pembangunan, mengelola belanja bahan, hingga mencari tukang.

adsense-fallback

Situasi semacam itu yang memunculkan peluang bisnis rumah berbahan kayu dengan sistim knock down. Rumah yang bisa di rakit ulang dan dibongkar-pasang itu cocok bagi mereka yang mengidamkan tempat tinggal baru, namun enggan repot.

Pembeli bisa memesan desain, memilih bahan kayu pada beberapa bagian rumah, menentukan besar ukuran atau tipe rumah, dan sebagainya. Setelah itu, penjual akan datang mengantarkan produk pesanan dan merakitkan sampai rumah tersebut siap dihuni.

Selama dua tahun terakhir ini, permintaan terhadap produk rumah kayu knockdown terus meningkat. Hal itu diakui pebisnis yang menjual berbagai jenis rumah bongkar-pasang, apalagi, pemain bisnis ini masih sedikit.

Pembeli rumah knock down dari dalam negeri adalah mereka yang ingin memiliki rumah peristirahatan. Indikasinya, kebanyakan rumah yang dipesan kemudian ditempatkan di daerah berhawa sejuk yang terkenal sebagai tempat berlibur, seperti Lembang di kawasan Bandung Utara dan Puncak, Bogor. Produk yang paling banyak dipesan model bungalo atau gazebo

Rumah knock down kebanyakan terbuat dari bahan kayu, dengan harga yang bervariasi, mulai yang berukuran 24 meter persegi, 48 meter persegi, 80 m2, hingga 96 m2. Harga jual produk nya bervariasi, mulai Rp45 juta sampai Rp150 juta.

Tidak cuma ukuran, jenis bangunan bongkar-pasang juga bervariasi. Mulai dari pesanan pembuatan rumah adat, dan bungalo, dan musala. Khusus untuk model produk yang terakhir, harga juga bergantung pada kesepakatan berdasarkan besar dan bahan kayu yang digunakan.

Biasanya, butuh waktu 3 bulan sampai 4 bulan menyiapkan bahan-bahan hingga menjadi bentuk bangunan siap kirim.

Produk yang paling laris adalah bungalo dan rumah tipe 24 meter persegi. Jumlah pemain di bisnis ini masih sangat minim. Di Sumatra Selatan, cuma ada sekitar 10 penjual rumah kayu knockdown. Bahkan, dalam skala nasional, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Di samping pasar lokal, sekarang ini pasar rumah knock down atau ifura juga berasal dari negara-negara di luar negeri, terutama negara Timur Tengah. Ifura menggunakan kayu merbau sebagai bahan baku utama.

Modal tak perlu besar Idrus menuturkan, kayu merbau termasuk kayu yang tergolong kuat. Produk rumah Ifura bisa bertahan sampai di atas 40 tahun (Properti kini edisi no. 10)

Judul Artikel : Menengok Bisnis Rumah Knock Down

adsense-fallback