Sofa Kayu, untuk Kesan Natural dan Hangat

adsense-fallback

Sofa Kayu, untuk Kesan Natural dan Hangat

Sofa tidak selamanya berselimut kain atau kulit, bertubuh gemuk, dan empuk jika diduduki. Ada juga sofa yang lebih banyak mengekspos kayu dengan bantalan yang bisa dilepas.

Istilah sofa sudah sedemikian akrab dalam kehidupan sehari-hari kita. Barangkali kita bisa menjumpai benda yang fungsinya sebagai tempat duduk ini di hampir semua bangunan—rumah, kantor, cafe, rumah sakit, salon, dan sebagainya. Bahkan banyak orang yang menganggap bahwa kehadiran sofa adalah suatu kewajiban dalam kelengkapan interior sebuah rumah tinggal.

adsense-fallback

Seperti juga unsur-unsur penataan interior lainnya, bisa jadi pola pengwajiban sofa seperti ini diadopsi dari negara-negara di Eropa, yang umum menggunakan sofa. Menurut Prima Haris Nuryawan (konsultan desain interior), sofa memang awalnya populer digunakan di Perancis sekitar abad ke-17. Saat itu apa yang disebut sofa adalah tempat duduk berbentuk panjang—untuk kapasitas duduk dua orang atau lebih— memiliki sandaran punggung serta sandaran lengan, dan bagian badannya biasanya terbungkus kain. Sampai saat ini, rumah-rumah di Eropa umumnya masih menjadikan sofa sebagainya elemen standar dalam sebuah rumah tinggal. Biasanya sofa yang dikenal sekarang ini rangkanya terbuat dari kayu atau besi, dengan pelapis kain/kulit pada sekujur badannya—kadang-kadang hanya meninggalkan bagian kaki yang tidak terbungkus—dan dilengkapi dengan bantalan pengempuk atau busa yang membuat tempat duduk ini menjadi sangat nyaman.

Melihat akar budaya Indonesia, sebetulnya kita juga mengenal sejenis sofa, yang menurut Prima dikenal dengan istilah bale-bale. Bale-bale ini biasanya terbuat dari kayu, bentuknya lebih lebar dibandingkan sofa pada umumnya. Tempat duduk ini biasa digunakan untuk bersantai setelah lelah bertani.

Mengekspos Kayu

Kalau mendengar kata-kata “sofa”, mungkin bayangan Anda langsung melesat ke tempat duduk panjang yang “gemuk” dan empuk. Padahal sofa tidak harus selalu demikian. Evolusi yang terjadi sepanjang perjalanan waktu menghasilkan beragam varian dalam sofa. Selama berfungsi sebagai tempat duduk, bentuknya panjang—untuk kapasitas duduk dua orang atau lebih—ia bisa dibilang sofa. Apakah dilengkapi sandaran punggung, sandaran tangan, dilapisi kain/kulit, diberi busa pengempuk atau tidak, semuanya bisa dikatagorikan dalam sofa.

Nah, salah satu varian sofa yang cukup populer di Indonesia, adalah sofa kayu. Yang dimaksud dengan sofa kayu di sini adalah sofa yang terbuat dari rangka kayu. Sofa ini bisa memiliki bantalan di bagian tempat duduk atau di bagian sandaran punggung, bisa juga tidak. Dan bantalan ini tidak selalu menyatu dengan rangka kayu; melainkan kadang-kadang ada yang bisa dilepas. Pokoknya, sofa yang terbuat dari kayu dan mengekspos kayunya—bukan pelapisnya, kami masukkan dalam katagori sofa kayu. Istilah sofa kayu bukanlah istilah yang umum dipakai. Kami menggunakannya di sini hanya untuk membedakan dengan sofa yang seluruh badannya dilapisi kain/kulit, sekalipun rangkanya juga terbuat dari kayu.

Cocok untuk Iklim Tropis

Ciri khas iklim tropis adalah udara lembab dan banyak debu. Dua masalah ini menurut Prima adalah musuh besar sofa yang mengekspos pelapis kain. Karena itu menurut Cherry Hadibroto (penulis) sebetulnya sofa kain kurang cocok untuk iklim Indonesia yang tropis. Apalagi kalau kita menggunakan kain dengan warna-warna terang. “Kadangkadang kain pelapis sampai berwarna kecoklatan, jadi terkesan jorok,” ujar Cherry. Namun dengan beberapa pertimbangan lain—estetika, kenyamanan, dan sebagainya—banyak orang lebih memilih sofa berpelapis kain.

Buat Anda yang ingin alternatif sofa, Anda bisa memilih sofa kayu, yang lebih bersahabat dengan iklim Indonesia. Membersihkan kayu tentunya lebih mudah ketimbang membersihkan kain. Apalagi sofa yang bantalannya bisa dilepas, tentunya proses mencuci sarung bantalan lebih praktis. Bahkan kalau bosan dengan corak bantalannya, Anda bisa menggantinya dengan lebih mudah.

Ciri iklim tropis lainnya adalah curah matahari yang cukup besar. Seperti juga sofa kain, sebaiknya hindari sofa kayu dari siraman sinar matahari langsung agar warnanya tidak cepat pudar. Kecuali sofa kayu tersebut memang dirancang untuk kebutuhan luar ruang yang tentunya sudah melalui proses tertentu agar lebih tahan cuaca.

Musuh sofa kayu lainnya adalah rayap. Namun kemajuan teknologi pengolahan kayu kini sudah bisa melindungi kayu dengan cukup baik.

Natural, Etnik, dan Antik

Pada dasarnya sofa kayu lebih mengekspos kayunya ketimbang pelapisnya. Ini memungkinkan orang untuk bermain dengan jenis kayu—yang tentunya berpengaruh pada serat serta warna—dan bermain dengan garis-garis atau ornamen seperti ukiran.

Anda yang mencintai unsur kayu bisa memilih jenis sofa kayu untuk mengisi rumah. Bila ingin sentuhan modern, Anda tinggal memilih bentuk-bentuk geometris. Bila luas rumah terbatas, Anda bisa menggunakan bentuk-bentuk yang simpel.

Sofa kayu juga bisa menjadi pilihan bila Anda menyukai model klasik atau antik—dua model yang menurut Prima in terus. Unsur kayu yang banyak terekspos memungkinkan sofa memamerkan ornamen berbentuk ukiran, ciri khas model klasik dan antik.

Cara Memilih Kayu

Ada banyak pilihan kayu untuk sofa. Karena sofa kayu lebih banyak mengekspos kayunya, kekuatan bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih. Serat dan warna kayu yang berpengaruh pada segi estetika juga perlu dipikirkan. Anda bisa memilih kayu yang berserat besar-besar seperti kembang, berwarna belang-belang, bergaris-garis besar, atau yang halus. Jenis kayu yang berbeda juga memiliki warna dasar yang berbeda; ada yang gelap, kemerah-merahan, kekuningan, atau putih pucat. Jati—yang murah sampai yang mahal—pinus, mahoni, nyatoh, sungkai, adalah beberapa jenis kayu yang menurut Prima cukup baik dan cantik digunakan untuk sofa. Tapi yang perlu diperhatikan selain jenis kayu, menurut Prima adalah proses pengolahan kayunya itu sendiri. Pengeringan dan proses perlindungannya harus baik, agar kayunya awet.

Sesuaikan dengan Mood Ruang

Sepintas, menurut Prima, kayu memang bersifat “keras”. Karena itu sofa kayu cenderung menciptakan mood yang elegan, tenang, dan cenderung formal. Namun kesan itu bisa diubah menjadi lebih hangat dengan menambahkan pelapis atau pengempuk berbalut kain dan bantal kursi berwarna cerah, polos, atau bercorak yang tidak mencolok, seperti garis-garis tipis, bunga-bunga kecil, ataupun kotak-kotak sederhana. Hasilnya, kayu bisa tampil hangat.

Dalam memilih warna, sebaiknya selaraskan dengan nuansa atau mood yang akan diciptakan dalam ruang. Warna-warna cerah atau terang, baik digunakan untuk membuat kesan lebih luas pada ruangan. Sedangkan warna gelap bisa menjadikan sofa sebagai aksen yang menonjol di tengah-tengah ruangan.

Ruang mana yang cocok menggunakan sofa kayu? Hal pertama yang perlu diperhatikan menurut Prima adalah fungsinya. Sebagai aksen ruang, atau untuk menciptakan mood ruang yang misalnya cenderung elegan, sofa kayu bentuk klasik atau antik cukup baik untuk diletakkan di ruang tamu. Namun untuk diletakkan di ruang keluarga di mana anggota keluarga bisa berjam-jam duduk sambil mengobrol, bisa dibayangkan seperti apa pegalnya badan Anda kalau duduk di atas sofa kayu, apalagi yang dibiarkan telanjang alias tidak diberi bantalan.

Sofa kayu juga pantas untuk diletakkan di luar ruang, seperti teras rumah, taman, atau disekitar kolam. Bentuk yang sederhana seperti halnya bale-bale, membuatnya berkesan hangat dan nyaman, meskipun terbuat dari kayu.

Untuk sofa ukiran, ada cukup banyak langgam yang tersedia di pasaran; ada gaya klasik Eropa, Amerika, Jawa, Bali, dan masih banyak lagi. Kalau Anda memiliki beberapa jenis langgam, misalnya karena ada beberapa yang merupakan warisan dari orangtua, Prima memberikan solusinya. Anda bisa memadukannya dalam gaya eklektik yang saat ini lagi naik daun. Dalam gaya ini, model apapun bisa bersanding dengan manis di dalam satu ruang asalkan tetap tercipta nuansa yang harmonis secara keseluruhan. Misalnya, sofa klasik bisa dimasukkan dalam ruangan bergaya minimalis. Atau bisa juga Anda menjajarkan kursi single berlapis kain dengan sofa ukiran Jepara.

Ada satu kunci menurut Prima yang perlu diperhatikan untuk memadu-padan dalam gaya eklektik, yaitu adanya unsur pemersatu. Unsur pemersatu ini bisa berupa corak yang sama pada setiap elemen, atau warna-warna dalam satu keluarga atau satu nada, atau yang paling mudah adalah dengan meletakkan bantal-bantal yang modelnya sama. Apapun bisa dicoba, untuk mendapatkan kesan yang Anda inginkan dari sofa kayu. (Tabloid Rumah)

Judul Artikel :  Sofa Kayu, untuk Kesan Natural dan Hangat

adsense-fallback